Monthly Archives: March 2010

ANGKUTAN AMAN BAGI BONEK

Kereta khusus pengangkut suporter Persebaya, Bonek alias bondo nekat, dari Bandung menuju Surabaya dilempari warga saat melintas di Solo dan sekitarnya, Minggu (24/1/2010). Nampak kaca-kaca jendela terlihat berlubang dan retak karena terkena lemparan.

Pelemparan rupanya tidak hanya terjadi di Solo, sebab setibanya di Solo banyak kaca jendela kereta yang telah pecah, berlubang atau retak karena terkena lemparan.Demikian juga selepas dari Stasiun Purwosari, warga yang menunggu di sekitar rel KA juga menjadikan kereta tersebut bulan-bulanan pelemparan.

(sumber: http://www.detiknews.com/read/2010/01/24/110224/1284737/10/ka-pengangkut-bonek-dilempari-batu)

TERBUKTI KERETA API TIDAK AMAN UNTUK BONEK

PERLU ANGKUTAN PENGGANTI untuk BONEK saat mendukung tim kesayangannya (Dijamin anti lemparan batu) :D

inilah:

Pilihan hidup : JADI BAJINGAN ATAU TENTARA

Syahdan jaman dahulu di Semarang, ada anak lelaki nakal yang hobinya nongkrong di terminal bis. Akibat kebanyakan bergaul di terminal, mau tidak mau caranya berpakaian juga mirip para penghuni terminal: kaos singlet, rambut panjang dan sepatu jungle (baca: jenggel, alias boots koboi). Entah bagaimana, mungkin bosan juga hidup di terminal, ia membaca ada pengumuman untuk pendaftaran masuk TNI. Dari dulu ia selalu beranggapan tentara itu gagah. Maka dengan naïf dan tetap berpakaian ala terminal, ikutlah dia mendaftar. Sudah barang tentu, ia di suruh balik badan oleh tentara petugas pendaftaran. Disuruh potong rambut dan pakai pakaian yang betul!.
Dengan meminta doa pada ibunya, ia kembali mendaftar dengan penampilan baru. Berbekalkan dua lembaran ijazah (SD dan SMP), ia masuk mendaftar jadi TNI. Dalam hatinya ia berkata ‘kalau saya tidak jadi tentara, saya akan bajingan!’ Lha?
Tuhan menerima ‘ancamannya,’ ia diterima jadi tentara ‘kromet’ alias kroco mumet dengan pangkat paling rendah, Prada. Tapi ia bangga, walaupun setiap hari kerjanya lari dengan topi baja yang kalau digetok dengungnya baru setengah jam hilang. Ia sama sekali tidak sadar, bahwa tidak ada lagi pangkat yang lebih rendah dari yang di sandangnya. Seperti biasa, semua tentara dengan modal minat, fisik dan kepolosan pasti kena werving Kopassus. Masuklah ia menjadi Kopassus. Dengan pangkat rendahan sampai usianya harus menikah, gajinya belum beranjak dari Rp. 75.000. Dari tempatnya berdinas di Ujung Pandang, ia pulang kampung mau melamar anak gadis orang. Disuruh bayar mahar dua juta rupiah, dengan mata terbelalak sambil keki dia hanya bilang “saya cari uang dua juta rupiah, tapi anak bapak tidak akan saya kasih makan seumur hidup!” Dia pun melengos pergi dan kembali menunaikan tugas di berbagai daerah operasi.
Lagi-lagi Tuhan mendengar ‘ancamannya’ ketika lain kali pulang kampong ia pergi ke bioskop gerimis bubar, di sana ia bertemu perempuan cantik yang mau dinikahi tanpa banyak cincong. Dua hari berkenalan, langsung di lamarlah perempuan itu. Dengan modal dengkul, niat baik dan easa optimis perkimpoian kecil-kecilan itu dilaksanakan.
Sekarang bekas anak tongkrongan terminal, yang masuk jadi TNI ‘kromet’ dan makan pahitnya gaji kecil sebagai tentara sudah menjadi seorang Letkol. Prestasi yang sangat jarang, karena kalau dihitung-hitung, ia sudah naik pangkat 17 kali! Kalau ditanya apa modalnya, ia selalu bilang Tuhan sudah berbaik hati. Yang hebatnya lagi, ia menjabat sebagai perwira yang mengurus tata tertib. 180 derajat berbalik dari modal awalnya yang melamar pakai singlet dan rambut gondrong. Letkol Untung Pranoto, adalah seorang tentara yang dedikasi serta loyalitasnya masih dapat menjadi contoh banyak prajurit Kopassus.
Sekarang sambil menjalankan tugasnya menegur dan menyentil tentara yang tidak disiplin dan selalu berusaha memberikan nasehat kepada para juniornya untuk selalu loyal kepada siapapun yang memimpinnya, karena itu yang menjadi kelebihan tentara. Ia juga hobi bercocok tanam dan memelihara ayam serta burung di rumahnya, yang penting tidak ada waktu nganggur. Diawali dari preman terminal dan masuk Kopassus dengan pangkat terendah, saat ini sebagai Prabandya Tatib Makopassus dengan pangkat Letkol, sebuah pengabdian yang sangat panjang.

SUMBER: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3438279