
Pepatah kuno orang barat “Silent is Gold”, tentu sangat kita kenal.
Akan tetapi untuk masa sekarang apakah masih relevan? Bisa saja
pepatah itu beralih rupa menjadi “Silent is not always Gold”.
Bangsa Amerika di jaman globalisasi menyatakan bahwa “Silent is the
stupidity” (diam itu adalah kebodohan), Lain lagi orang orang Jepang
, menafsirkan diam, sebagai pengakuan rasa bersalah. Lain pula orang
jawa, yang mengisyaratkan diam sebagai suatu ketidakpastian
(ambiguity). Orang India secara definitip menyatakan diam sambil
menganggukan kepala sebagai pernyataan tidak sependapat
Kita yang hidup di Indonesia, lebih cenderung mengambil kaedah orang
Jawa yang menafsirkan diam sebagai bentuk ambiguity (ketidakpastian) .
Hal ini disebabkan oleh budaya patternalistik yang telah mengakar
ratusan tahun. Rasa sungkan untuk berkata tidak setuju terhadap
pendapat orang yang lebih berkuasa, meski suara hatinya menyatakan
tidak setuju. Sikap inilah yang banyak muncul dalam bentuk mengiktui
kata orang yang lebih kuasa, dibanding mengikuti suara hatinya,
Dengan uraian seperti diatas, maka terungkap bahwa “Silent is not
alway Gold”. Bisa juga berarti diam adalah representasi stupitdity
(kebodohan), atau bisa juga berarti pengakuan atas kesalahan yang
dilakukan.
Kalau ditanya, berapa banyak orang sih yang berani mengakui kesalahan.
Yah mungkin bisa dihitung dengan jumlah jari.
Kesalahan biasanya ditutup dengan aneka alasan. Sedangkan yang namanya
alasan 99% adalah bohong. Dengan kata lain supaya diri ini terlihat
bersih maka tidak segan-segan ditutup dengan kebohongan yang
mengalihkan (placement) kesalahan kepada pihak/obyek lain.
Misalnya datang terlambat ke kantor, dengan alasan jalan macet. Janji
tidak tepat waktu dengan alasan ada kesibukan lain yang tidak bisa
ditinggalkan. Sedang meeting dengan client padahal sebenarnya sedang
mojok dengan pacar atau selingkuhanya.
Jelasnya aneka kebohongan secara sadar penuh dibuat sebagai alasan
agar diri terlhat bersih dimata orang lain.
Phenomena aneka kebohongan mau tidak mau harus diakui selalu ada di
lingkungan kehidupan kita, yang menjadi cost (biaya) kelakuan, Bahkan
kebohongan disimpan rapi dalam “safey box” supaya tidak bisa dilihat
oleh orang lain. Bukankah ini kita mengeluarkan extra cost (biaya
ekstra) terhadap kelakuan ?
Bicara soal kebohongan, memang diakui ada jenis kebohongan tertentu
yang di tolerir dilakukan, jika dalam keadaan memaksa (force major).
Seperti seorang tawanan perang yang sedang di interogerasi terpaksa
berbohong untuk melindungi induk pasukanya.
Yang harus dan patut kita fahami, bahwa kebenaran / kebaikan, akan
selalu bisa merembes keluar dari ketatnya pagar kebohongan. Cepat atau
lambat pasti alir kebenaran / kebaikan akan memberikan informasi
keadaan yang sesungguhnya terjadi. Dan jika kebenaran / kebaikan sudah
terkuak, maka akan menutup seluruh pintu rezeki bagi pelaku
kebohongan, sebagai konsekwensi logis, baik datang dari arah verikal
(sunnatullah) maupun dari arah horizontal sebagai pelanggaran
hukum-hukum sosial.
Zaman sekarang kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa “diam itu emas
(silent is gold)”. Karena, diam adalah ekspressi ambiguity
(ketidakpastian) yang penuh dengan teka teki keraguan.
Tidak ada satupun persoalan / masalah yang bisa diselesaikan dengan
cara diam.
Jika kita melempar uang logam (koin) 100an rupiah. Kemudian kita
menebak sisi koin mana yang jatuh menghadap kita. Gambar Garuda atau
angka 100 ? Dalam beberapa lemparan, mungkin saja tebakan kita benar
atau sebaliknya salah. Intinya kita segera akan tahu kejadian akhir
yang terjadi, Dengan kata lain tahu dan faham kejadian yang
sesungguhnya terjadi.
Akan tetapi jika kita hanya berdiam diri, tidak pernah berani melempar
koin tersebut, kita tidak akan pernah tahu sisi koin mana yang akan
jatuh menghadap kita. Dengan kata lain kita tidak akan pernah bisa
tahu apa kejadian yang sesungguhnya akan terjadi.
Oleh karena itu menjalani kehidupan tidak bisa dilakukan dengan
berdiam diri dalam menghadapi setiap persoalan. Jika dalam pengambilan
keputusan ternyata salah, Maka harus berani mengaku salah. Maka akan
banyak orang lain yang akan membantu diri kita untuk keluar dari
kesalahan.
Tidak satupun manusia di dunia yang yang bisa bertindak benar. Tanpa
pernah tahu aneka kesalahan yang perjadi. Apakah kesalahan itu
dipelajari dari pengalaman orang lain atau pengalaman sendiri.
Resiko terkecil adalah belajar dari pengalaman orang lain.
Kalu kita memahami, bahwa kebohongan adalah mutlak salah. Maka mulai
saat ini tinggalkan dan lupakan.
Kalau kita memahami, bahwa teman kita, sebagai pemicu diri kita
berbuat kebohongan. Maka jangan ragu-ragu. Tinggalkan dan lupakan dia.
Dan akhirnya…. …, jangan lagi memberikan ruang kosong didalam diri,
menjadi tempat tinggal yang empuk bagi kebohongan.
Sirigig kudu jeung harti, sarengkak rejeng pikiran.
Memeh prak sing ati-ati, lamun sidik goreng singkiran
(terjemahan bebas:……
Tempatkan suara hati nurani kedalam pikiran. Selalu waspada dan
hati-hati. Jika tahu ada kesalahan, segera singkirkan)
Tara bagja nu dongkap lamun anjeun ungkul cingogo (tidak kebaikan yang
akan datang, kalau kita hanya duduk-duduk saja).
Diambil dari:
Webmaster www.margaluyu-pusat.net
margaluyu@yahoogroups.com